Inflasi Kalteng 0,38% di Awal 2026, Harga Pangan & Emas Jadi Biang Kerok

Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah mencatat inflasi di awal 2026 masih terjaga, meski tekanan dari harga pangan dan emas mulai terasa. Foto-Istimewa

FOLKKALIMANTAN.COM, PALANGKA RAYA Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah mencatat inflasi di awal 2026 masih terjaga, meski tekanan dari harga pangan dan emas mulai terasa.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis Senin (2/2/2026), inflasi Kalimantan Tengah pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,38% secara bulanan (month to month/mtm).

Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng, M Taufiqurrahman, mengatakan inflasi terutama dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil 0,30%.

“Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, ikan gabus, ikan nila, dan beras. Sementara bawang merah dan cabai rawit justru menahan laju inflasi,” ujarnya.

Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Kalimantan Tengah mencapai 4,09%. Tekanan terbesar berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, terutama akibat kenaikan tarif listrik dan harga emas perhiasan.

NTP Naik Tipis

Dari sisi kesejahteraan petani, Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Tengah pada Januari 2026 tercatat 134,67, naik tipis 0,06% dibandingkan Desember 2025.

Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya harga yang diterima petani, khususnya dari komoditas gabah, karet, dan ayam ras pedaging. Sementara Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) tercatat sebesar 140,39, naik 0,34% secara bulanan.

Ekspor Tertekan, Neraca Tetap Surplus

Dari sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor Kalimantan Tengah sepanjang Januari–Desember 2025 tercatat US$ 3,54 miliar, atau turun 12,01% dibandingkan tahun sebelumnya.

Ekspor masih didominasi batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) dengan negara tujuan utama Jepang, India, dan China.

Sementara itu, nilai impor hanya US$ 37,70 juta, turun tajam 35,42%, sehingga neraca perdagangan Kalteng tetap mencatat surplus.

Hotel & Transportasi Meningkat

Di sektor pariwisata, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang pada Desember 2025 mencapai 57,64%, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. 

Jumlah tamu tercatat 58.537 orang, mayoritas wisatawan domestik, dengan rata-rata lama menginap 1,34 malam.

Aktivitas transportasi juga menguat. Frekuensi penerbangan mencapai 1.400 penerbangan dengan jumlah penumpang berangkat 72.260 orang. 

Sementara kunjungan kapal laut tercatat 904 unit, disertai peningkatan bongkar muat di pelabuhan utama.

Produksi Padi Turun

Di sektor pertanian, luas panen padi sepanjang 2025 turun 12,49% dibandingkan 2024, sementara produksi padi terkoreksi 8,94%. Penurunan terutama terjadi pada periode September–Desember 2025.

Meski demikian, BPS memperkirakan produksi padi mulai membaik di awal 2026.

“Potensi luas panen padi pada Januari–Maret 2026 diperkirakan meningkat berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA),” tutup Taufiqurrahman.

Penulis    : Putri

Lebih baru Lebih lama