| Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Eko Hendro Purnomo mengatakan program hilirisasi pertambangan telah memasuki fase strategis yang akan menentukan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. FOTO-DPR RI |
folkkalimantan.com, PONTIANAK — Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Eko Hendro Purnomo mengatakan program hilirisasi pertambangan telah memasuki fase strategis yang akan menentukan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Hal itu ia sampaikan saat memimpin kunjungan kerja spesifik Komisi VI ke Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis, 12 Februari 2026.
Eko menyebut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara mewajibkan peningkatan nilai tambah mineral di dalam negeri.
Dalam konteks industri aluminium, Kalimantan Barat diposisikan sebagai salah satu pusat pengembangan hilirisasi nasional.
Menurut dia, cadangan bauksit di Kalimantan Barat menjadi basis pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah yang dioperasikan PT Borneo Alumina Indonesia.
Proyek itu merupakan kerja sama PT Aneka Tambang Tbk, PT Indonesia Asahan Aluminium, dan PT Bukit Asam dalam naungan MIND ID.
“Selama ini Indonesia mengekspor bauksit mentah, tetapi masih mengimpor alumina untuk kebutuhan smelter aluminium. Kehadiran SGAR diharapkan menutup celah itu,” kata Eko.
Ia juga menyinggung pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang diharapkan memperkuat pembiayaan proyek-proyek padat modal seperti SGAR melalui PT Danantara Asset Management.
Berdasarkan laporan MIND ID 2024–2025, integrasi bauksit Antam dengan fasilitas pemurnian diproyeksikan menghasilkan sekitar 1 juta ton alumina per tahun pada tahap awal.
Produksi itu disebut dapat mengurangi impor dan menghemat devisa hingga ratusan juta dolar Amerika Serikat.
Namun Eko mengingatkan masih ada tantangan, antara lain ketersediaan energi, kesiapan infrastruktur logistik, serta fluktuasi harga komoditas dan tekanan standar lingkungan global.
Komisi VI, kata dia, akan mengidentifikasi hambatan regulasi dan pembiayaan agar target pembangunan smelter bisa tercapai.
“Kita ingin memastikan kehadiran industri ini memberi dampak ekonomi yang nyata bagi Kalimantan Barat,” ujarnya.
Editor : Khatmansyah