Pemerintah Pangkas Kuota BBM Bersubsidi pada 2026

Pemerintah memangkas kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk tahun 2026. Foto-Istimewa

FOLKKALIMANTAN.COM, JAKARTA — Pemerintah memangkas kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk tahun 2026. 


Pemangkasan dilakukan terhadap Pertalite dan solar subsidi, seiring upaya pengendalian anggaran dan penyaluran subsidi agar lebih tepat sasaran.


Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas mengatakan, kuota penyaluran jenis BBM tertentu (JBT) dan jenis BBM khusus penugasan (JBKP) untuk 2026 telah ditetapkan. 


Hal itu disampaikan dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (27/1/2026).


“BPH Migas telah menetapkan penyaluran kuota JBT dan JBKP tahun 2026,” ujar Wahyudi dikutip Republika.


Kuota JBT minyak solar atau solar subsidi pada 2026 ditetapkan sebesar 18.636.500 kiloliter. 


Angka tersebut turun 1,32 persen dibandingkan kuota solar subsidi 2025 yang mencapai 18.885.000 kiloliter.


Sementara itu, kuota JBKP atau Pertalite pada 2026 ditetapkan sebesar 29.267.947 kiloliter, turun 6,28 persen dibandingkan kuota Pertalite pada 2025 sebesar 31.230.017 kiloliter.


Berbeda dengan solar subsidi dan Pertalite, kuota JBT minyak tanah justru mengalami kenaikan tipis. 


Pada 2026, kuota minyak tanah ditetapkan sebesar 526.000 kiloliter, naik 0,19 persen dibandingkan kuota 2025 sebesar 525.000 kiloliter.


Wahyudi menjelaskan, pengendalian kuota BBM subsidi sejalan dengan upaya pemerintah memastikan penyaluran subsidi lebih tepat sasaran. 


Pada 2025, BPH Migas mencatat penghematan anggaran sebesar Rp 4,9 triliun melalui pengawasan distribusi BBM subsidi agar realisasinya tidak melampaui kuota yang ditetapkan dalam APBN.


Penyaluran solar subsidi sepanjang 2025 tercatat mencapai 97,49 persen dari kuota APBN. 


Dari realisasi tersebut, pemerintah menghemat sekitar 473.600 kiloliter atau setara Rp 2,11 triliun.


Adapun realisasi penyaluran minyak tanah mencapai 507.900 kiloliter atau 96,75 persen dari kuota APBN 2025 sebesar 525.000 kiloliter, sehingga menghasilkan penghematan sekitar 17.000 kiloliter atau setara Rp 0,12 triliun.


Penghematan terbesar berasal dari penyaluran Pertalite. Realisasi penyaluran Pertalite tercatat sebesar 28,06 juta kiloliter atau 89,86 persen dari kuota APBN 2025 sebesar 31,23 juta kiloliter.


Editor : Rizky Permatasari 

Lebih baru Lebih lama