Proyeksi Rupiah 2026: Benarkah Bisa Tembus Rp17 Ribu per Dolar AS?

 

Foto-Dok/CNn Indonesia

FOLKKALIMANTAN.COM, JAKARTA — Memasuki 2026, nilai tukar rupiah kembali jadi sorotan. Sejumlah analis menilai mata uang Garuda berpotensi melemah dan bahkan bisa menyentuh level Rp17 ribu per dolar AS jika tekanan global terus berlanjut.

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut faktor geopolitik masih menjadi “biang kerok” utama. Konflik yang belum mereda, terutama di kawasan Timur Tengah, membuat investor global cenderung menghindari risiko.

Akibatnya, dana asing ramai-ramai keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, dan beralih ke aset aman seperti dolar AS dan emas.

“Kalau kondisi ekonomi global tidak baik-baik saja, pasti berdampak ke rupiah. Ekspor-impor terhambat, investasi mandek, bahkan ada perusahaan yang terpaksa tutup,” ujar Ibrahim.

Mandeknya investasi, lanjutnya, berimbas langsung pada daya beli masyarakat. Ketika konsumsi melemah, tekanan terhadap rupiah pun semakin besar.

“Kalau daya beli turun, rupiah akan terus tertekan. Jadi kalau rupiah di atas Rp17 ribu per dolar AS, menurut saya itu masih wajar,” kata Ibrahim.

Pandangan serupa disampaikan analis Doo Financial Futures, Lukman Leong. Ia menilai pelemahan rupiah di 2026 juga dipengaruhi oleh prospek kebijakan moneter global, khususnya dari bank sentral AS, The Fed.

Peluang pemangkasan suku bunga The Fed yang makin kecil, ditambah kebijakan pelonggaran dari Bank Indonesia dan pemerintah, bisa membuat rupiah kehilangan daya tarik di mata investor.

“Suku bunga yang lebih rendah membuat mata uang jadi kurang menarik. Ditambah likuiditas yang longgar, itu secara prinsip memang menekan rupiah,” ujar Lukman.

Ia juga mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan strategis seperti Laut Karibia dan Laut China Selatan bisa menjadi faktor tambahan yang membebani rupiah.

Dengan berbagai tekanan tersebut, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp16.300 hingga Rp17.300 per dolar AS sepanjang 2026.

Sementara itu, pemerintah sendiri memasang asumsi kurs rupiah Rp16.500 per dolar AS dalam APBN 2026. Angka ini lebih lemah dibanding asumsi APBN 2025 yang berada di level Rp16 ribu per dolar AS.

Meski begitu, Bank Indonesia tetap optimistis. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi.

“Kami akan membawa nilai tukar rata-rata sekitar Rp16.500 per dolar AS, bahkan bisa di Rp16.400 tahun depan. Stabilitas rupiah akan terus kami jaga,” ujar Perry.

Dengan tekanan global yang masih membayangi, perjalanan rupiah di 2026 tampaknya tidak akan mudah. Namun satu hal jelas: arah kebijakan dan stabilitas global akan jadi penentu utama apakah rupiah benar-benar menembus Rp17 ribu, atau justru mampu bertahan.

Sumber : CNN Indonesia

Lebih baru Lebih lama